Rabu, 01 Januari 2014

EMBUN

Embun ...
Engkau akan selalu ku tunggu..
Detakan detik menemani setiap langkahku
Tak pernah berhenti dengan seiringnya hidupku

Apakah jiwa ini terlalu buruk untuk menunggu???
Atau mungkin kau semu dalam hidupku.???
Kau adalah waktu terbaik dari segala waktu
Ku harap kenistaan diriku terhapus olehmu.

Tetesmu selalu melunakkan organ tenggorokanku.
Udaramu selalu membuatku merasa tenang,
Kabutmu selalu membuatku hanyut
Jiwa ini tak ingin sepi dari sentuhanmu

Namun pintaku...
Ku tak ingin embun pagi ku...
Lenyap bagai putih tak berbekas
Sebagaimana dalam dunia fanamu


Senin, 09 Desember 2013

KEBINGUNGAN

          Kebingungan adalah suatu hal yg biasa terjadi. Dengan adanya sifat ini, manusia dapat merasakan bahwa yang memiliki masalah terberat adalah dia. Selain itu, mereka juga sulit untuk mengenali dirinya sendiri. Kemana arah tujuannya? Apakah yang kulakukan sudah apa yang kuharapkan?. Pertanyaan ini seakan menghampiri dan seakan-akan menjadi suatu tekanan dan selalu menekan tiap harinya.
          Kebingungan ini terjadi karena sesuatu pilihan dan bisa terjadi karena sebuah kehilangan yng di sayang. Jika kebingungan terjadi karena 2 atau lebih pilihan. Namun jika karena kehilangan, hal ini terjadi karena rasa memiliki kita sudah terlampaui besar dan menyebabkan menyebabkan kebingungan yang sangat akut..

Sesungguhnya kebingungan ini terjadi karena hati kita sudah hampa akan adanya sang Maha Pencipta. Padahal sudah jelas , bahwa " jika hamba Allah swt terlalu memikirkan dunia akan diberi kebingungan."

Selasa, 03 Desember 2013

BUMI YANG MENANGIS

                  Tetesan air dibumi terus membasahi bumi. Terserap perlahan-lahan kedalam tanpa batas. Aku hanya dapat melihat dari kejauhan dan mempelajari tentang fenomena alam ini. Bumi yang terus menangis dan bumi yang terus mengering. Bagaikan bencana yang terus melanda,  namun kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin sang bumi menunggu dan berharap  pada langit bahwa suatu saat mereka dapat bersatu. Bumi yang memikirka dan meratapi keberhentian dia , menenggu dan mengharapkan langit. Namun saat langit datang , tangisan yang diberikan seusap kata maaf yang mendalam bahwa kejadian mereka harapkan tidakkan terjadi. Menangis dan terus menangis hingga bumi yang kering dan retak-retak yang dia dapat sedikit demi sedikit dapat terobati